Langsung ke konten utama

Mana yang Paling Nikmat, Teh Celup atau Teh Tubruk?

Bagi orang Jawa, teh manis yang diseduh dari teh celup ataupun teh tubruk menjadi minuman wajib untuk memulai hari. Teh manis cocok menemani apapun menu sarapan pagi mulai dari pisang goreng, singkong rebus, sepiring nasi gudeg hingga semangkok bubur ayam. 

Nah, apapun merek teh yang dijual di warung-warung saat ini, selalu ada dua pilihan yang tersedia yakni teh celup dan teh tubruk. Sebagai penyuka teh, mari saya bandingkan keduanya di bawah ini: mana yang paling nikmat? 

#Teh Celup

Teh dalam kantung ini sangat praktis diseduh. Kepraktisannya sangat membantu ketika ada kunjungan tamu mendadak di rumah. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, teh bisa segera disajikan. 

Cukup tuang air panas ke dalam gelas, lalu celupkan kantong teh beberapa kali hingga warna teh keluar. Atau bisa juga dengan mendiamkan kantong teh terendam beberapa saat di dalam gelas yang berisi air panas. Kemudian angkat kantungnya dan air teh yang cukup pekat pun didapat. Sentuhan akhir, tinggal menambahkan gula pasir sesuai selera dan jadilah secangkir teh manis siap saji. 

Pernah mencoba membuka kantong teh celup? Jika kantong teh dirobek, kalian akan mendapati potongan-potongan daun teh yang sangat kecil di dalamnya. Potongan-potongan daun teh yang kecil inilah yang memudahkan warna teh keluar ketika diseduh. Sedangkan material kantong teh menahan potongan-potongan tersebut tak berhamburan sehingga hasil seduhannya bersih. 

Bagi saya, teh celup menawarkan rasa yang lembut begitu pula dengan aromanya. Saat tamu datang tiba-tiba, tak lebih dari 10 menit cangkir-cangkir teh hangat sudah tersaji di meja tamu. Tampilannya yang cantik dan bersih sangat cocok untuk menyempurnakan sopan santun menjamu tamu. Nilai plus ini yang membuat persediaan teh celup wajib ada. Level kenikmatannya 4/5. 

#Teh Tubruk

Teh tubruk biasanya dikemas dalam bungkusan kertas yang besarnya sekepalan tangan dan ada juga yang ukurannya lebih kecil. Di dalam bungkusan inilah, kalian akan mendapati potongan-potongan daun teh yang berukuran besar. Ukuran potongan ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan daun teh yang terdapat di dalam kantung teh.

Jika tak punya tea pot atau teko teh, menyeduh teh tubruk akan cukup merepotkan. Kalian harus merendam selama beberapa saat sesendok atau dua sendok teh tubruk. Setelah itu saring dengan saringan teh untuk mendapatkan air seduhan teh. Tapi meskipun telah disaring, potongan-potongan kecil daun teh biasanya akan tetap terbawa dalam gelas hasil saringan. 

Bila ingin lebih praktis seperti zaman kakek saya dulu, cukup ambil sejumput teh tubruk lalu tambahkan air panas dan gula. Aduk rata, lalu tunggu beberapa saat hingga sebagian daun teh tenggelam di dasar gelas dan sebagian lainnya mengambang di permukaan. Dalam satu dua kali seruput, pasti akan ada potongan-potongan daun teh yang ikut masuk ke dalam mulut. Tapi bagi saya, inilah versi teh tubruk yang sesungguhnya!

Bagi sebagian orang yang cukup sensitif terhadap kafein seperti saya, kentalnya seduhan teh tubruk sudah cukup menyegarkan badan dan membuat mata terbuka lebar. Kuatnya kandungan kafein ini tak lain dihasilkan dari potongan-potongan besar daun teh. 

Seduhan teh tubruk punya rasa yang begitu khas di lidah. Ada rasa sepet bercampur manisnya gula yang menghasilkan citarasa unik. Ditambah lagi dengan aroma teh yang harum tercium kuat. Di angkringan-angkringan seputaran Jogja, citarasa teh seperti ini yang disebut nasgitel, “panas legi kentel” alias panas manis dan kental. 

Tak hanya mengandalkan satu merek teh tubruk saja, ternyata untuk membuat teh yang enak wajib dicampurkan tiga merek teh tubruk yang berbeda untuk memadukan keunggulan teh tersebut. Resep ini saya dapatkan dari sekelompok ibu-ibu yang terbiasa meracik minuman teh dalam jumlah besar untuk keperluan ronda, hajatan dan minuman teh di angkringan yang mereka kelola. Seduhan teh tubruk seperti ini level kenikmatannya 5/5.

Nah, bagaimana dengan kalian? Manakah yang lebih nikmat, teh celup atau teh tubruk? 

teh celup atau teh tubruk
sumber: unsplash.com



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Inseminasi di Klinik Infertilitas Permata Hati, Rumah Sakit Sarjito dan Biaya Inseminasi

Di bulan Desember ini, kami memutuskan untuk menjalani insem ke-2. Untuk persiapan inseminasi buatan ke-2 ini kami datang berkonsultasi dengan dr. Shofwal Widad pada hari kedua menjelang menstruasi. (Perhitungan kami tepat, karena sudah ada flek-flek menjelang mens.) Saat konsultasi ini, kami diberi skema apa saja yang perlu dilakukan. Saya diresepkan Dipthen untuk diminum 2x sehari mulai dari hari ketiga menstruasi sampai dengan hari ketujuh menstruasi. Dipthen ini harga sekitar Rp. 15.000 per butir. Untuk konsultasi dengan dokter di Permata Hati Rp. 115.000,- . Di hari konsultasi ini, saya dipesan untuk datang kembali pada hari ke-7 menstruasi. Pada hari ke-7 menstruasi, saya kembali ke Klinik Permata Hati. Saya diberi suntikan Gonal F untuk stimulasi sel telur. Suntikan yang pertama ini, saya disuntik oleh perawat. Tapi suntikan kedua dan ketiga harus suntik sendiri atau minta bantuan perawat. Saya memutuskan untuk disuntik oleh suami atau suntik sendiri. Oh ya, untuk s

Berapa Biaya Tes TORCH di Yogyakarta? Ini Pengalamanku, Tes TORCH di Tahun 2022!

Senin, 1 Agustus 2022 menjadi hari yang tak terlupakan.  Setelah persiapan di hari sebelumnya, sekitar jam 10 pagi saya masuk ke ruang operasi di rumah sakit Siloam, Yogyakarta untuk tindakan kuret atau kuretase. Tindakan ini terpaksa harus dilakukan untuk mengeluarkan kehamilan yang nggak sehat.  Takut?  Nggak terlalu sih, karena ini kali kedua mengalami keadaan yang nyaris sama.  Nyaris sama, tapi berbeda.  Kehamilan pertama di tahun 2019, janin berhenti berkembang di usia kehamilan sekitar 8 minggu. Saat itu saya nggak memilih kuret dan membiarkan keguguran terjadi secara alami. Ketika terjadi pendarahan, barulah saya pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.  Namun pada kehamilan kedua yang ternyata juga nggak berjalan normal, saya memilih untuk melakukan tindakan kuret. Soalnya, pengalaman keguguran yang pertama rupanya sangat membekas. Saya masih trauma membayangkan pendarahan dan perjalanan panjang ke rumah sakit.  Nah, setelah mengalami dua kali kehamilan yang nggak n

Persiapan Bayi Tabung, Sebuah Pengalaman Pribadi Berhasil Bayi Tabung

Selama program hamil, saya tergabung dalam grup khusus pasien-pasien sebuah klinik program hamil. Dari grup ini saya mendapat banyak sekali informasi berharga dan motivasi untuk terus memperbaiki pola hidup demi keberhasilan program bayi tabung . Nah, ada satu kisah tentang persiapan bayi tabung yang menginspirasi saya. Berikut akan saya bagikan kisah tersebut dengan menyamarkan nama asli pemilik kisah. Semoga bermanfaat! sumber foto: John Looy dari Unsplash.com Melangkah Tanpa Persiapan Bayi Tabung Sebut saja namanya Delima. Beliau sudah 2x menjalani program bayi tabung. Program pertama dilakukan tahun 2016, saat itu usianya 36 tahun. Kasus mereka ditandai sebagai unexplained infertility, sebab hasil tes Delima dan suami terlihat normal. Saat menjalani program yang pertama ini, Delima mengantongi hasil AMH 2.3. Ada beberapa polip di rahimnya dan sudah dibersihkan satu bulan sebelum program bayi tabung dimulai.  Pada program bayi tabung pertama ini, Delima menjalaninya tanpa persiapan